TETANGGA

TETANGGA

Karya Lubis Grafura

 

Sebuah papan bertuliskan Rumah Dijual di Jalan May Bismo 201 baru saja dicabut. Sebuah rumah dengan harga cukup tinggi tersebut akhirnya terjual juga. Walaupun letaknya berada di pinggir jalan raya, rumah tersebut tergolong mahal untuk ukuran kota kecil di salah satu kota di Kediri. Anehnya, pembeli rumah tersebut membayar tunai tanpa penawaran.

Keluarga Pak Jo yang bertempat tinggal di jalan May Bismo 202 tentu saja sangat gembira. Mereka akan memiliki seorang tetangga baru. Terlebih lagi istrinya yang sudah lama menghendaki seorang tetangga.

Bu Win yang baru saja membeli rumah tersebut adalah seorang janda. Janda yang cantik dan kaya. Suami dan anaknya meninggal saat kecelakaan pesawat. Bu Win itu seorang wanita yang ramah dan supel. Tidak butuh waktu yang lama bagi Bu Win untuk merebut hati para ibu-ibu di daerah sekitar.

Kehadiran Bu Win disambut baik oleh Bu Jo. Dirinya merasa seolah Bu Win adalah sahabatnya semasa sma dulu. Apalagi keduanya memiliki hobi yang sama: memasak! Tidak jarang juga Bu Jo mengundang janda yang masih berusia 30 tahunan itu makan di rumahnya. Begitu pula sebaliknya. Bahkan Adi, anak Bu Jo, cukup akrab dengan Bu Win.

Satu hal yang dikagumi Bu Jo dari Bu Win adalah kegigihannya memperjuangkan kaum wanita. Ibu-ibu lainnya juga sering berkumpul di rumah Bu Win yang pandai membawa diri di dalam masyarakat itu. Kesopanan dan sikap tahu dirinya tak membuat para ibu curiga jika suaminya nanti jatuh cinta.

“Perempuan itu jangan mau di rumah saja” Kata Bu Win kepada Bu Jo “Perempuan juga harus terlibat di luar rumah biar punya wawasan. Ya, hitung-hitung refresing lah. Biar tidak kuper di rumah.”

Berawal dari pembicaraan tersebut, Bu Jo memiliki ide untuk fitnes tiap sore. Bu Jo merayu suaminya dengan alasan agar nanti dirinya bisa memberikan “layanan” yang lebih baik. Pak Jo mengatakan kepada istrinya bahwa pendapatannya hanya bergantung pada gaji tiap bulan mengajar di SMP, apalagi semua harga kebutuhan naik setelah kenaikan harga BBM. Bu Jo akhirnya mengurungkan niatnya.

“Bu Sri kemarin bilang ke saya.” Kata Bu Win lain waktu “Masak katanya begini, Bu Jo itu pelit, uangnya di simpan terus, mobil suaminya saja dari zaman orde baru sampai sekarang masih dipakai. Saya ingin membantahnya Bu, tapi saya kan orang baru di sini. Jadi, saya hanya bisa mengatakan, ah itu tidak benar Bu Sri.”

Seusai makan malam, Bu Jo membicarakan masalah ganti mobil kepada suaminya. Pak Jo menyikapi permintaan istrinya itu dengan sabar. Seperti alasan-alasan sebelumnya, Pak Jo mengatakan bahwa kebutuhan yang lain masih perlu dicukupi.

Tidak puas dengan jawaban suaminya itu, akhirnya diam-diam Bu Jo membeli berbagai perabotan baru. Bu Jo sangat puas ketika sebuah kursi ukir datang ke rumahnya saat Bu Sri melintas. Bu Jo memberikan sebuah isyarat. Seolah mengatakan ”Lihat! Perabot siapa yang ternyata dari zaman orde baru?”

Bu Sri yang tidak menangkap isyarat dari sepasang mata Bu Jo tersebut hanya tersenyum dan mengatakan: ”Wah, Bu Jo panjang ya?” Panjang adalah sebuah istilah yang digunakan ibu-ibu di sana untuk mengungkapkan seseorang sedang memiliki banyak uang. ”Ya, iya lah” Jawab Bu Jo sekenanya dengan nada menghina.

Sepulang dari mengajar, Pak Jo yang melihat perabotan baru di rumahnya cukup kaget. Mulanya Pak Jo ingin marah saat tahu bahwa uang tabungan untuk biaya pendidikan anaknya digunakan membeli perabotan mahal. Namun, Pak Jo tahu bahwa marah tidak akan menyelesaikan masalah.

Sikap kesabaran Pak Jo ternyata diartikan lain oleh istrinya. Sikap suaminya itu dianggap sebagai sebuah kekangan terhadap kaum wanita. Bahwa wanita harus melakukan semua perintah suami tanpa bertanya kenapa dan wanita hanya melayani para suami yang egois di ranjang!

”Apakah ke kamar mandi aku juga perlu izin?”

Kata itulah yang muncul dari bibir Bu Jo. Betapa terpukul Pak Jo melihat kelakuan istrinya yang berubah. Saat di ranjang, Pak Jo berinisiatif untuk meredakan pertengkaran. Pak Jo membisikkan kalimat mesra kepada istrinya sebagai isyarat untuk bercinta. Namun, Bu Jo berpura-pura sudah terlelap.

***

Bu Jo kini sering keluar rumah. Tugas-tugasnya sering diabaikan. Ia pernah tidak menjemput Adi ke sekolah. Menitipkan Adi ke Bu Rini yang kebetulan anaknya satu sekolah dengan Adi. Kalau sore, Bu Jo akan pergi ke tempat fitnes.

”Oh, Bu Jo sedang keluar ya Pak?” Bu Win hanya memberikan masakan hasil olah resepnya setelah tahu Bu Jo tidak di rumah. Saat Bu Win menghilang dari balik pagar halaman, Pak Jo merasa bahwa Bu Win yang usianya sama dengan istrinya ternyata lebih cantik dan berperilaku baik sebagai seorang istri.

***

Sebuah pertengkaran tak lagi dapat dielakkan antara Pak Jo dan istrinya. Bu Jo memiliki argumen yang meletup-letup seperti rentengan petasan. Dan malam ini terpaksa Pak Jo tidur sendirian, sebab Adi dibawa istrinya pergi ke rumah orang tuanya.

Namun, sebenarnya Bu Jo tidaklah pergi ke rumah orang tuanya. Ia menginap di rumah Bu Win. Bu Win menerima kehadiran Bu Jo dengan tangan terbuka. Bu Win bersikap seolah ia memihak kepada Bu Jo sebagai seorang wanita.

Saya dulu merasakan perubahan suami. Ia menjadi orang yang pelit. Ternyata diam-diam ia main dengan perempuan,” Bu Win menangis “Di luar sana banyak perempuan yang menggunakan mantra untuk merebut suami kita. Kalau ibu percaya, ibu nanti saya beri alamat orang pintar. Biar Adi di sini bersama saya”

Bu Jo percaya. Sementara itu, Pak Jo sedang gelisah. Ia hendak menyusul istrinya yang dikira sedang ke rumah orang tuanya. Tapi diurungkan niatnya. Pikirnya, barangkali dengan saling tidak bertemu, masing-masing dapat saling mengoreksi kesalahan.

Benar juga perkiraan Pak Jo. Keesokan harinya, Bu Jo pulang dengan wajah yang menyesal. Pak Jo merasa tenang hatinya saat meninggalkan rumah untuk berangkat mengajar. Namun, saat ia pulang, ia tak menemukan istri dan anaknya hingga larut. Perasaan kuatir muncul ketika ponsel istrinya tidak aktif dan juga tidak sedang berada di rumah orang tuanya.

Tiba-tiba, sebuah ketukan pintu memunculkan harapan. Namun, yang berada di balik pintu adalah Bu Win. Sedangkan Adi terlelap dalam gendongannya. Tentu saja Pak Jo sangat terkejut. Saat Bu Win melepaskan gendongan Adi, sepasang mata Pak Jo sempat melihat segaris belahan dada Bu Win di celah kancing bajunya yang terlepas. Pak Jo sempat berfikir bahwa payudara Bu Win lebih indah dan besar daripada milik istrinya.

Pikiran itu hampir hilang saat Bu Win mengatakan bahwa istrinya kini sedang berselingkuh dengan lelaki lain. Bu Win juga menambahkan bahwa Bu Jo besok malam akan merencanakan pembunuhan kepada Pak Jo.

***

Pak Jo mempercepat pergumulan dengan istrinya. Ia langsung pura-pura tidur. Dan ia masih terbayang apa yang pernah dikatakan Bu Win. Ternyata benar, ia melihat istrinya mengeluarkan sebuah gunting. Padahal Bu Jo hendak mengambil rambut untuk dibawa ke seorang dukun agar guna-guna dalam diri Pak Jo hilang. Pak Jo yang segera tanggap, langsung memegang gunting itu.

Terjadilah adegan saling rebut gunting. Pak Jo yang dikuasai amarah mengalahkan kekuatan istrinya. Dan gunting itu menancap tepat pada detak jantung istrinya. Bu Jo meninggal seketika di tangan Pak Jo yang berlumur darah.

***

Darah mertua Pak Jo mendidih saat Bu Win menceritakan bahwa kematian Bu Jo disebabkan karena Pak Jo ketahuan berselingkuh. Mertua Pak Jo menuntutnya ke pengadilan. Dua keluarga yang dulunya pernah terjalin silaturahmi yang baik, kini saling bermusuhan di pengadilan.

Kisah tersebut pernah diulas sekali di salah satu stasiun televisi. Namun seiring bergantinya cuaca, luruh seminya daun, kisah itu menjadi sejarah yang menyedihkan bagi orang-orang yang pernah mengenal keluarga Pak Jo.

Bu Win yang tahu persisi cerita itu menggambar senyum di wajahnya. Terlebih saat Pak Jo mendekam dalam penjara. Sebab, ia sudah melakukan hal yang sudah menjadi ambisinya dari dulu: mengusir Adam dan Siti Hawa dari surga, menghasut Qabil membunuh Habil, meniup racun saat Nabi Ayub bersujud, Nabi Daud dengan perempuan Urya, hingga Nabi Sulaiman yang meninggalkan kerajaan karena iblis menyamar sebagai istrinya.

***

Dan, sebuah tulisan terpampang pada halaman rumah di Jalan May Bismo 202: Rumah Dijual. Sepasang suami istri yang berasal dari Flores sedang melihat-lihat halaman rumah tersebut. Rencananya akan dibangun sebuah ruko sekaligus tempat tinggal. Mengingat tempatnya yang strategis. Sepasang suami istri itu bertanya kepada Bu Win yang kebetulan sedang membuka pintu pagar. Bu Win menyambutnya dengan cukup ramah.

 

Leave a Comment