Archive for the 'Cerpen' Category

Biru

Januari 30, 2009

Biru

Oleh Sugeng AW
Rok birunya berkibar. Ia memang suka warna biru. Warna yang tentram, anggun dan damai. Warna laut. Dipandanginya samudera itu. Sejauh mata memandang hanya ada sehamparan warna yang begitu mesra membelainya. Biru. Ia memejamkan matanya menghayati warna biru merasuki pori-porinya, merasakan semilir angin laut yang sayu membelainya mengisyarat musim yang akan segera berganti.
Ia [...]

Cinta Yang Tak Terbalas

Agustus 28, 2008

Cinta Yang Tak Terbalas

KORUPTOR DAN TUKANG SEMIR

Agustus 28, 2008

KORUPTOR DAN TUKANG SEMIR

JENDELA TUA

Agustus 6, 2008

JENDELA TUA

Senja di Pekuburan

Juli 1, 2008

Senja di Pekuburan

Sekuntum kembang kamboja layu bergoyang bersama rantingnya mengikuti arah angin. Lantas, kembang itu terpetik dari rantingnya. Meluruh terbawa angin. Jatuh di atas sebuah nisan. Seorang lelaki yang semenjak tadi berkhusuk segera terusik dengan kamboja itu. Di pungutnya, lalu ia kembali memanjatkan doa.
“Afliani Amalia”
Lelaki itu tersenyum sendiri saat teringat pertama kali bertemu [...]

Rilara Nuadanga

Juli 1, 2008

Rilara Nuadanga

Tiap-tiap jiwa musti akan mengalami kematian. Dan, kematian selalu datang bergegas. Lantas, sebuah jembatan kecil antara kehidupan dan kematian yang bernama sakratal maut mustilah diseberangi. Kami, Suku Kaili, menyebut jembatan kecil itu sebagai rilara nuadanga.
”Panggil saja aku Lipu”
Kami tinggal di desa Lero, kecamatan sinduE. Daerah kami berupa pegunungan dan hutan yang lebat. [...]

Perjalanan Pulang Selmi

Juli 1, 2008

Perjalanan Pulang Selmi

Aku bisa melakukan gerakan berputar tanpa menyentuh tanah. Aku pun bisa membuat gelembung-gelembung kecil menghambur ke atas. Ini bukanlah sulap. Begitulah aku, sebab aku adalah ikan salmon.
”Panggil aku Selmi”.
”Aku Olni.”
Ikan salmon mengawali hidupnya di sebuah hulu sungai. Ketika menginjak dewasa, mereka harus melakukan sebuah perjalanan menuju laut. Perjalanan menuju laut [...]

Orang Keseratus yang Kubunuh

Juli 1, 2008

Orang Keseratus yang Kubunuh
Karya Lubis Grafura

Kuhayati jerit terakhir dari sepasang bibirmu ketika cabut pedangku mengiris dadamu. Tatapan matamu mengisyarakatkan dendam yang terpendam. Sementara, jantungmu yang berlumur darah berdenyut hangat di telapak tanganku. Telah kutuntaskan nyawa yang kesembilan puluh sembilan dengan sebilah pedangku.
Dua hari semenjak kutuntaskan musuhku yang kesembilan puluh sembilan, aku mengurung diri di [...]

Matahari Kembar

Juni 30, 2008

 Matahari Kembar
 
Hamba tak sanggup melakukan tugas yang berat ini. Tak mungkin hamba membunuh gadis yang ternyata membuat nafas hamba memberat. Hamba terpaksa mengatakan yang sebenarnya, bahwa hamba hanya menjalankan tugas. Sepasang matanya mengisyaratkan iba atas kesetiaan hamba dalam menjalankan tugas yang berat ini. Lantas, ia menuding ke langit bahwa ada matahari kembar. Saat hamba mendongakkan [...]

Dua Orang Tentara

Juni 30, 2008

 Dua Orang Tentara
SEBUAH laras panjang muncul dari balik celah reruntuhan bangunan. Seperti seekor ular yang mengintai mangsanya dari balik tanah. Senapan itu sesentipun tak bergerak. Pun ular yang memiliki sepasang mata tajam yang diam. Tak hendak melepas mangsanya barang sedetikpun. Hingga setelunjuk jari menarik pelatuk. Jika senapan adalah ular, ia akan meluncurkan kepalanya ke arah [...]