Biru Oleh Sugeng AW Rok birunya berkibar. Ia memang suka warna biru. Warna yang tentram, anggun dan damai. Warna laut. Dipandanginya samudera itu. Sejauh mata memandang hanya ada sehamparan warna yang begitu mesra membelainya. Biru. Ia memejamkan matanya menghayati warna biru merasuki pori-porinya, merasakan semilir angin laut yang sayu membelainya mengisyarat musim yang akan segera [...]
Arsip untuk ‘Cerpen’ Kategori
Biru
Januari 30, 2009Cinta Yang Tak Terbalas
Agustus 28, 2008Cinta Yang Tak Terbalas
KORUPTOR DAN TUKANG SEMIR
Agustus 28, 2008KORUPTOR DAN TUKANG SEMIR
JENDELA TUA
Agustus 6, 2008JENDELA TUA
Senja di Pekuburan
Juli 1, 2008Senja di Pekuburan Sekuntum kembang kamboja layu bergoyang bersama rantingnya mengikuti arah angin. Lantas, kembang itu terpetik dari rantingnya. Meluruh terbawa angin. Jatuh di atas sebuah nisan. Seorang lelaki yang semenjak tadi berkhusuk segera terusik dengan kamboja itu. Di pungutnya, lalu ia kembali memanjatkan doa. “Afliani Amalia” Lelaki itu tersenyum sendiri saat teringat pertama kali [...]
Rilara Nuadanga
Juli 1, 2008Rilara Nuadanga Tiap-tiap jiwa musti akan mengalami kematian. Dan, kematian selalu datang bergegas. Lantas, sebuah jembatan kecil antara kehidupan dan kematian yang bernama sakratal maut mustilah diseberangi. Kami, Suku Kaili, menyebut jembatan kecil itu sebagai rilara nuadanga. ”Panggil saja aku Lipu” Kami tinggal di desa Lero, kecamatan sinduE. Daerah kami berupa pegunungan dan hutan yang [...]
Perjalanan Pulang Selmi
Juli 1, 2008Perjalanan Pulang Selmi Aku bisa melakukan gerakan berputar tanpa menyentuh tanah. Aku pun bisa membuat gelembung-gelembung kecil menghambur ke atas. Ini bukanlah sulap. Begitulah aku, sebab aku adalah ikan salmon. ”Panggil aku Selmi”. ”Aku Olni.” Ikan salmon mengawali hidupnya di sebuah hulu sungai. Ketika menginjak dewasa, mereka harus melakukan sebuah perjalanan menuju laut. Perjalanan menuju [...]
Orang Keseratus yang Kubunuh
Juli 1, 2008Orang Keseratus yang Kubunuh Karya Lubis Grafura Kuhayati jerit terakhir dari sepasang bibirmu ketika cabut pedangku mengiris dadamu. Tatapan matamu mengisyarakatkan dendam yang terpendam. Sementara, jantungmu yang berlumur darah berdenyut hangat di telapak tanganku. Telah kutuntaskan nyawa yang kesembilan puluh sembilan dengan sebilah pedangku. Dua hari semenjak kutuntaskan musuhku yang kesembilan puluh sembilan, aku mengurung [...]
Dua Orang Tentara
Juni 30, 2008Dua Orang Tentara SEBUAH laras panjang muncul dari balik celah reruntuhan bangunan. Seperti seekor ular yang mengintai mangsanya dari balik tanah. Senapan itu sesentipun tak bergerak. Pun ular yang memiliki sepasang mata tajam yang diam. Tak hendak melepas mangsanya barang sedetikpun. Hingga setelunjuk jari menarik pelatuk. Jika senapan adalah ular, ia akan meluncurkan kepalanya ke [...]